Cari

Featured

KUNTILANAK DI GUNUNG PRAU...

by - Mei 24, 2019

pendakian ke Prau yang horor

Cerita ini berawal saat @_kresnap, temanku di organisasi pecinta alam saat masih ber-SMA di Jogja, mengajakku mendaki untuk menemani teman-teman pemula mendaki. Kebetulan juga kami libur besok karena akhir pekan, jadi aku memutuskan ikut untuk mengisi aktivitas daripada gabut, dan kebetulan juga sudah memiliki alat-alat sewaan pendakian karena sebelumnya habis mendaki di Gunung Andong.

Sebelumnya ternyata teman-teman ini sudah dibriefing dan diagi-bagikan tugas oleh Kresna. Mereka adalah @hafizkurnaedi, @ansadewantara, @fikra.ad, dan Hafid. Ya Karena rombongan kami ingin mendaki gunung yang relatif ketinggiannya rendah sebagai latihan mendaki, kami memutuskan untuk mendaki Gunung Prau di Dieng. Jadi pendakian kali ini tidak berat-berat amat lah ya...

Dan, perjalanan kami dimulai...

***

Kami tiba di basecamp Prau yang berada di Kalilembu, di dekatnya ada papan tulisan 'Welcome to Dieng'. Waktu tiba kami adalah jam 11, dan langsung melakukan simaksi.

Basecamp ini berada di sekitaran pemukiman warga lapangan yang luasnya hanya beberapa meter. Tapi... rasanya ada yang janggal dengan basecamp ini. Menjelang hari libur seperti ini, tapi mengapa sejauh jarak memandang, hanya ada kami yang melakukan pendakian? Mungkin ada yang sudah naik duluan, pikrku mencoba berfikir positif.

Tapi saat aku bertanya pada petugas simaksi, apakah ada pendaki yang lain di atas. Jawabannya. TIDAK ADA.

Kok aneh banget sih! AH LUPAKAN! Bisa jadi orang-orang tak mendaki Prau mungkin karena sekarang memasuki musim hujan.

Umumnya mendaki Prau memakan waktu 3 jam. Tapi berhubung kami harus.. menghormati.. *uhuk* yang gendut seperti Ansa dan Ijul, dan mereka mudah lelah selain itu juga baru awal-awal mendaki, kami harus mendaki santai saja. Kalau setiap kali kami mendakinya kecepetan, pasti Ansa dan Ijul protes.

"Hambok munggahe biasa wae, rasah kesusu! Ngertino koncomu iki toh!. Kalo ndaki yang biasa aja dong, Kar! Gak usah buru-buru, ngertiin temenmu ini lahh!" Keluh Ansa, saat aku mendaki ngebut.

"Iya iya... gue paling belakang, deh. Biar enggak ada yang ketinggalan dan bisa back-up kalian" Ujarku.

Susunannya jadinya sekarang aku yang paling belakang, di depanku ada Hafid, Fikra, berikutnya Ansa dan Ijul, dan paling depan adalah Kresna. Formasi ini supaya kami bisa saling back-up dan mengerti perasaan masing-masing. Jangan nafsu kalau mendaki, puncak dan sunrise adalah bonus!

Jadilah pendakian kami berenam ini yang penuh kesunyian dan kegelapan yang diiringi suara jangkrik yang seolah menyambut kami yang sendiri. Hutan di pendakian Gunung Prau via Dieng ini diitari pohon-pohon pinus yang rindang. Selama pendakian pun kami mengisi dengan cerita-cerita untuk bersenda gurau, walaupun banyak diamnya karena memompa nafas.

Percakapan pun berhenti, kami kehabisan kata-kata. Daripada sunyi aku memutuskan untuk menyetelkan lagu yang sudah kuunduh berdasarkan abjad biar tidak bosan.

Yap, lagu pertama dari Tipe-X dengan judul Kamu Enggak Sendirian. Lagunya sangat pas buat malam ini sambil merindukan seseorang yang jauh di sana (Kondisi saat itu, aku punya pacar, yaaa). Kalau tidak percaya, coba deh kamu dengar lagunya.



Kami semua gembira, hingga tiba-tiba...

"Lingsir wengi
Sliramu tumeking..."

Anjrit! Lingsir Wengi???

Kami tersontak lagu itu terputar di ponselku di tengah hutan yang gelap. Aku berpikir secara abjad. Habis 'K' itu'L'. Lingsir wengi!! Tapi kenapa aku menyimpan lagu ini??!!

ARGGGGHH!!

Aku coba mematikan ponselku. Tapi ENGGAK BISA! Sialan!

Kucoba menarik napas, dalam kepanikan ini. "Klik"
Hapeku berhasil ku matikan. Semua menghela napas.

Kresna langsung bergerak cepat ke arahku dengan marah.  Ia memarahiku agar tidak menyetel musik apapun itu lagi. Aku hanya bisa minta maaf dan pasrah. Malu rasanya, sebagai salah satu pembimbing mendaki harusnya aku memberi contoh yang baik untuk berlaku di alam bebas. Kami pun melanjutkan pendakian.

***

Foto di Gunung Prau saat Tenda kami sudah diganti posisinya untuk berswafoto

Kami tiba di puncak sekitar setengah 3 malam. Malam itu, puncak Prau benar-benar sepi dan hanya kami yang satu-satunya yang mendaki. Angin berhembus cukup kencang. Dengan suhunya yang dingin, membuat kami harus secepat mungkin untuk mendirikan tenda.

Tenda kami dibangun di lokasi yang tidak jauh dari jurang. Fungsinya agar saat fajar kami bisa melihat sunrise dengan latar belakang pemandangan Dieng. Belakang tenda juga ada pepohonan pinus yang meneduhkan kami. Bila ada angin berhembus dari belakang membawa suhu dingin, kami terjaga. Lokasi kami hitungannya strategis malam itu.

Saat tenda telah berdiri semua masuk dan tidur, kecuali aku. Padahal aku sebelumnya mengajak mereka agar tidak tidur dan menikmati malam hingga fajar. Takut ketiduran. Tapi karena mereka merasa kedinginan dan kelelahan, mereka harus tidur dalam tenda yang hangat. Kresna juga ikut tidur. Aku yakin, mereka pasti kebablasan melihat sunrise.

Aku sendiri tidur-tiduran di luar tenda menjaga mereka sembari menunggu sunrise. Tapi saat aku rebahan di matras yang kugelar depan tenda. Tiba-tiba. Seperti ada suara.

Suara wanita berbisik di telinga kananku persis! Tidak jelas apa yang diucapkan. Aku menggigil ketakutan dan mengubah posisiku menghadap tenda di kiriku.

Belum selesai membalikan badan.. Ponselku tiba-tiba menyala dari balik pintu tenda. Aku langsung tersontak kaget dan terduduk. Aku langsung membuka tenda dengan cepat agar memarahi siapa pun di antara rombongan yang mengusiliku.

Kubuka pintu tenda....

KOSONG!!???

Belum selesai aku melongo tenda ini kosong. Tiba-tiba ponselku di ujung tenda itu berbunyi sendiri. Benda itu memutarkan musik itu lagi... Lingsir Wengi! Sontak ketika itu juga ada aroma tak sedap kuendus.

Baunya begitu amis... baunya lebih amis seperti bangkai segar.

Aku berlari sejauh mungkin, malam itu aku hanya bermodalkan cahaya rembulan. Tanpa kusdari aku berlari terlalu jauh dari tempat kemah. Aku tersesat di hutan rupanya..

Napasku terengah-engah. Capek rasanya berlari. Semakin gelap karena aku tersesat di hutan. Aku terbaring kelelahan. Lama-lama, ada seperti sosok wanita berdaster dari kejauhan nampak seperti menghampiriku. Aku tidak peduli, sudah capek rasanya untuk berlari dan ketakutan.

Wanita itu makin mendekat. Ia seperti membisikan sesuatu dengan suara yang berat dari kejauhan.

Semakin dekat ia, semakin hilang kesadaranku.

Tinggal beberapa meter lagi..

Aku hilang.

***

Mentari menyusup masuk kelopak mataku membuatku terbangun. Aku terkejut! Tak sadar aku bila aku tertidur di tepian jurang depan tenda. Teman-temanku nampak mengitariku dengan terheran-heran.

"Edan tenan eh, Kar! Turu kok neng pinggiran jurang?! (Gila lu kar. Tidur kok di pinggiran jurang?)" heran Kresna.

Aku bangkit dari tidurku, kepalaku pusing. Sulit rasanya berkata apa-apa.

"Mau bengi kowe bengak-bengok, ngopo ehi? (Tadi malam lu teriak-teriak, kenapa dah?)" Tanya Fikra. Rupanya Fikra semalam tak bisa tidur karena teriakanku. Ia berkata bahwa semalam aku berteriak-teriak seperti menantang sesuatu.

Rombongan mendaki Prau. (dari kiri) Ijul, Ansa, Hafid, Aku, Fikra, dan Kresna.


Aku terdiam. Aku tak bisa menjelaskan apa pun. Rasanya, aku masih takut untuk mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam.

Aku hanya bisa melamun.

"Kar?" sahut Ansa mengarahkan wajahnya kepadaku dengan tampang heran "Mbok dijawab"

Mungkin aku belajar kali ini, aku tak boleh sembarangan bertindak di alam terbuka. Tak ada yang tahu siapa yang bersama kita, dan menikmati suatu alunan bersama kita.

Dengan pelan-pelan aku menjawab, "Mungkin gue ngigo kali..."

Lalu aku bangun dan berfoto-foto bersama mereka. Tanpa sadar, saat aku berjalan melewati tenda, ponselku berbunyi lagi... Memutarkan lagu itu lagi.

You May Also Like

0 komentar